Rabu, 28 Oktober 2015

Psikologi Manajemen




A.    Sejarah Psikologi Manajemen
Pada awalnya psikologi manajemen merupakan dua bidang ilmu yang terpisah, yaitu psikologi dan manjemen. Untuk menjamin kesuksesan suatu organisasi diperlukan pemahaman yang baik terhadap teori manajemen guna mendorong efektifitas dan efisiensi kerja atau profesionalisme manajemen. Hal ini disebabkan manajemen merupakan kombinasi antara ilmu dan seni. Awalnya konsep manajemen digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia, kemudian timbul pemikiran bahwa akal manusia dapat memenuhi kebutuhan itu secara lebih efektif lagi, setelah itu dibutuhkan modal untuk mendanai alat yang akan membantu dalam meningkatkan efektifitas. Maka, sejak zaman revolusi industri, tiga modal kerja yang utama adalah SDA (Sumber Daya Alam), SDU (Uang) dan SDM (Manusia), dan ilmu manajemen pun berkisar pada upaya untuk mengoptimalkan kinerja antar ketiga modal itu.
Dengan ditemukan dan dikembangkannya ilmu psikologi, diketahui bahwa unsur SDM ternyata merupakan yang terpenting, karena ilmu psikologi yang memang berpusat pada manusia, yang mampu mengintervensi atau mengolah berbagai faktor internal manusia seperti motivasi, sikap kerja, keterampilan, dsb dengan berbagai macam teknik dan metode, sehingga bisa dicapai kinerja SDM yang setinggi-tingginya untuk produktivitas perusahaan,
B.     Definisi Psikologi Manajemen
Psikologi manajemen adalah suatu studi tentang tingkah laku manusia yang terlibat dalam proses manajemen dalam rangka melaksanakan fungsi-fungsi manajemen untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Menurut Stoner, manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Sebuah proses yang dilakukan untuk mewujudkan tujuan organisasi melalui rangkaian kegiatan berupa perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengendalian orang-orang serta sumber daya organisasi lainnya (Nickels, McHugh and McHugh, 1997).
C.    Komunikasi
Komunikasi adalah alat yang utama untuk mempengaruhi perubahan perilaku. Kita dapat memisah-misahkan paling tidak empat dimensi yang bebas dari proses komuniksi : isi, suara, ciri-ciri, jaringan dana arah.
Komunikasi satu arah mempunyai beberapa keuntungan dalam kecepatannya yang melebihi komunikasi dua-arah. Komunikasi satu arah juga mempunyai keuntungan-keuntungan lain yaitu melindungi si pengirim dari pengenalan terhadap kesalahan-kesalahannya sendiri dan juga melindunginya dari beberapa masalah yang semakin kompleks di dalam memimpin.
Komunikasi dua arah mempunyai keuntungan-keuntungan karena lebih teliti dan lebih banyak meyakinkan perasaan si penerima. Tetapi komunikasi dua arah juga lebih memerlukan perencanaan dari si pengirim tentang hal-hal yang menyangkut pesanan yang ingin disampaikan dan menimbulkan serangkaian masalah yang baru dalam kepemimpinan.
D.    Mempengaruhi Perilaku
Sebagian besar pendidikan telah mengajarkan agar kita percaya agar kita mempengaruhi orang lain melalui akal sehat atau sekurang-kurangnya kita harus demikian. Orang harus dibujuk dengan fakta-fakta, dengan bukti, dengan kebenaran. Tetapi suatu pengamatan terhadap kenyataan akan memperlihatkan kepada kita bahwa pada sebagian besar masala, akal hanyalah merupakan suatukomponen yang kecil saja dari proses. Kebanyakan kita menerima atau menolak ide-ide baru atau merubah perilaku kita sebagai hal yang lebih merupakan jawaban terhadap perasaan-perasaan dari pada terhadap fakta-fakta. Kita berubah karena ditakut-takuti atau dirayu atau disayangi atau diancam. Orang yang sepenuh hati percaya kepada logika dan akal mungkin akan enggan menerima kenyataan bahwa sebagian orang lebih dipengaruhi oleh emosi ketimbang oleh akal.
E