A.
Sejarah
Psikologi Manajemen
Pada awalnya psikologi manajemen merupakan dua bidang
ilmu yang terpisah, yaitu psikologi dan manjemen. Untuk menjamin kesuksesan
suatu organisasi diperlukan pemahaman yang baik terhadap teori manajemen guna
mendorong efektifitas dan efisiensi kerja atau profesionalisme manajemen. Hal
ini disebabkan manajemen merupakan kombinasi antara ilmu dan seni. Awalnya
konsep manajemen digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia, kemudian timbul
pemikiran bahwa akal manusia dapat memenuhi kebutuhan itu secara lebih efektif
lagi, setelah itu dibutuhkan modal untuk mendanai alat yang akan membantu dalam
meningkatkan efektifitas. Maka, sejak zaman revolusi industri, tiga modal kerja
yang utama adalah SDA (Sumber Daya Alam), SDU (Uang) dan SDM (Manusia), dan
ilmu manajemen pun berkisar pada upaya untuk mengoptimalkan kinerja antar
ketiga modal itu.
Dengan ditemukan dan dikembangkannya ilmu psikologi,
diketahui bahwa unsur SDM ternyata merupakan yang terpenting, karena ilmu
psikologi yang memang berpusat pada manusia, yang mampu mengintervensi atau
mengolah berbagai faktor internal manusia seperti motivasi, sikap kerja,
keterampilan, dsb dengan berbagai macam teknik dan metode, sehingga bisa
dicapai kinerja SDM yang setinggi-tingginya untuk produktivitas perusahaan,
B.
Definisi
Psikologi Manajemen
Psikologi manajemen adalah suatu studi tentang tingkah
laku manusia yang terlibat dalam proses manajemen dalam rangka melaksanakan
fungsi-fungsi manajemen untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.
Menurut Stoner, manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan
sumber daya organisasi dan penggunaan sumber daya organisasi lainnya agar
mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Sebuah proses yang dilakukan untuk mewujudkan tujuan
organisasi melalui rangkaian kegiatan berupa perencanaan, pengorganisasian,
pengarahan, dan pengendalian orang-orang serta sumber daya organisasi lainnya
(Nickels, McHugh and McHugh, 1997).
C.
Komunikasi
Komunikasi adalah alat yang utama untuk mempengaruhi
perubahan perilaku. Kita dapat memisah-misahkan paling tidak empat dimensi yang
bebas dari proses komuniksi : isi, suara, ciri-ciri, jaringan dana arah.
Komunikasi satu arah mempunyai beberapa keuntungan
dalam kecepatannya yang melebihi komunikasi dua-arah. Komunikasi satu arah juga
mempunyai keuntungan-keuntungan lain yaitu melindungi si pengirim dari
pengenalan terhadap kesalahan-kesalahannya sendiri dan juga melindunginya dari
beberapa masalah yang semakin kompleks di dalam memimpin.
Komunikasi dua arah mempunyai keuntungan-keuntungan
karena lebih teliti dan lebih banyak meyakinkan perasaan si penerima. Tetapi
komunikasi dua arah juga lebih memerlukan perencanaan dari si pengirim tentang
hal-hal yang menyangkut pesanan yang ingin disampaikan dan menimbulkan
serangkaian masalah yang baru dalam kepemimpinan.
D.
Mempengaruhi
Perilaku
Sebagian besar pendidikan telah mengajarkan agar kita
percaya agar kita mempengaruhi orang lain melalui akal sehat atau sekurang-kurangnya
kita harus demikian. Orang harus dibujuk dengan fakta-fakta, dengan bukti,
dengan kebenaran. Tetapi suatu pengamatan terhadap kenyataan akan
memperlihatkan kepada kita bahwa pada sebagian besar masala, akal hanyalah
merupakan suatukomponen yang kecil saja dari proses. Kebanyakan kita menerima
atau menolak ide-ide baru atau merubah perilaku kita sebagai hal yang lebih
merupakan jawaban terhadap perasaan-perasaan dari pada terhadap fakta-fakta. Kita
berubah karena ditakut-takuti atau dirayu atau disayangi atau diancam. Orang
yang sepenuh hati percaya kepada logika dan akal mungkin akan enggan menerima
kenyataan bahwa sebagian orang lebih dipengaruhi oleh emosi ketimbang oleh
akal.
E