v Sejarah Perkembangan Kesehatan
Mental
Penyakit mental sama usianya dengan manusia. Meskipun secara
mental belum maju, nenek moyang homo sapiens mengalami gangguan-gangguan mental
seperti halnya dengan homo sapiens sendiri. Mereka dan keturunan mereka sangat
takut akan predator. Mereka menderita berbagai kecelakaan dan demam yang
merusak mental mereka, dan mereka juga merusak mental orang-orang lain pada
perkelahian-perkelahian. Sejak itu manusia dengan rasa putus asaselalu berusaha
menjelaskan penyakit mental, mengatasinya, dan memulihkan kesehatan mental.
Mula-mula penjelasannya sederhana, ia menghubungkan kekalutan-kekalutan mental
dengan gejala-gejala alam, pengaruh buruk orang lain, atau roh-roh jahat.
Semua
nenek moyang homo sapiens kadang-kadang harus memperhatikan kesehatan mental.
Ia mungkin menghibur seorang kawannya yang sedang kebingungan, atau berteriak
dengan menatap ke langit yang gelap untuk menjernihkan pikirannya ketika bangun
dari mimpi buruk dicakar harimau. Dewasa ini juga manusia masih berusaha
menjelaskan penyakit mental dan persoalan menghilangkan penyakit mental itu dan
hal ini merupakan teka teki yang paling sulit selama berabad-abad.
Kita
dapat membandingkan persoalan-persoalan mental dengan mata uang yang mempunyai
dua sisi di mana sisi yang satu sakit sedangkan sisi yang lain sehat. Hari ini
tampaknya kemungkinan untukmelihat kedua sisi itu kira-kira 50 : 50, tetapi
mungkin hari esok akan lain lagi ceritanya karena ilmu pengetahuan mungkin
akhirnya akan menguasai persoalan-persoalan mental sesuatu yang paling sulit
dari semua bidang untuk diteliti. Sebelum hari esok dan selagi hari ini masih
berlangsung, marilah kita memperhatikan sejenak masa lampau mental manusia
serta gangguannya. Retrospeksi akan memberikan perspektif dan kerangka untuk
memahami apa yang dihadapi sekarang dan kemungkinan-kemungkinan masa depan.
Hanya
perlu diketahui di sini bahwa sejarah yang tercatat melaporkan berbagai macam
interpretasi mengenai penyakit mental dan cara-cara menguranginya atau
menghilangkannya. Pada umumnya hal tersebut mencerminkan tingkat pengetahuan
dan kecenderungan-kecenderungan religious, filosofis, dan keyakinan-keyakinan
serta kebiasaan-kebiasaan masyarakat zaman itu. Tidak mengherankan bahwa
usaha-usaha lebih awal dalam menangani masalah tersebut penuh dengan kesulitan,
dan perkembangan ilmu kesehatan mental sendiri sangat lambat. Hal ini
disebabkan oleh dua alasan, pertama, sifat
dari masalah-masalah yang disebabkan oleh tingkah laku abnormal membuatnya
menjadi hal tersendiri karena perasaan takut, malu, dan bersalah dalam
keluarga-keluarga dan masyarakat dari para pasien. Oleh karena itu, penanganan
terhadap orang-orang yang sakit mental diserahkan kepada Negara atau lembaga
agama yang menjadi pelindung baik tingkah laku kelompok maupun tingkah laku
individu. Kedua, perkembangan semua
ilmu pengetahuan begitu lambat dan sporadis, dan banyak kemajuan sangat penting
yang telah dicapai mendapat perlawanan yang sangat keras. Ini merupakan hal
yang khas bagi ilmu kesehatan mental dibandingkan dengan disiplin-disiplin ilmu
yang lain. Dalam meninjau kisah historis yang berikut, orang hendaknya menahan
diri untuk memandang dengan perasaan khawatir atau mengkritik terlalu pedas.
Meskipun benar bahwa pada masa-masa awal orang yang sakit mental dipahami
secara salah atau sering diperlakukan dengan kurang baik, namun banyak orang
normal/sehat bukanlah orang-orang yang paling bahagia.
v Konsep Sehat Berdasarkan Dimensi
Konsep
sehat pada masyarakat awam lebih merujuk kepada keadaan fisik jasmaniah
seseorang yaitu sehat atau sakit. Akan tetapi sesungguhnya konsep sehat tidak
hanya dari segi fisik saja, tedapat dimensi-dimensi lain seperti emosi,
intelektual, sosial dan spiritual. Sehat sendiri dapat dikatakan sebagai suatu
kondisi normal, nyaman dan bahagia baik secara fisik , emosi (EQ), intelektual
(IQ), spritual (SQ) dan sosial. Serta dapat melakukan aktivitas sehari-hari
tanpa terganggu. Sedangkan sakit itu sendiri diartikan sebagai keadaan fisik
tubuh yang terganggu yang menyebabkan perasaan tidak nyaman dan tidak
mengenakan.
Berikut ini
ada beberapa pengertian sehat :
A. Menurut
WHO
Menurut
WHO (1947) Sehat itu sendiri dapat
diartikan bahwa suatu keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental dan
sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan (WHO, 1947).
Definisi WHO tentang sehat mempunyai karakteristik berikut yang dapat meningkatkan
konsep sehat yang positif (Edelman dan Mandle 1994) :
1. Memperhatikan individu sebuah sistem
yang menyeluruh
2.
Memandang
sehat dengan mengidentifikasi
lingkungan internal dan eksternal.
3.
Penghargaan
terhadap pentingnya peran individu dalam hidup.
B. Sehat
menurut DEPKES RI
Konsep sehat dan sakit sesungguhnya
tidak terlalu mutlak dan universal karena ada faktor -faktor lain di luar
kenyataan klinis yang mempengaruhinya terutama faktor sosial budaya. Setiap
pengertian saling mempengaruhi dan pengertian yang satu hanya dapat dipahami
dalam konteks pengertian yang lain. Banyak ahli filsafat, biologi, antropologi,
sosiologi, kedokteran, dan lain-lain bidang ilmu pengetahuan telah mencoba
memberikan pengertian tentang konsep sehat dan sakit ditinjau dari masing-masing
disiplin ilmu. Masalah sehat dan sakit merupakan proses yang berkaitan dengan
kemampuan atau ketidakmampuan manusia beradaptasi dengan lingkungan baik secara
biologis, psikologis maupun sosio budaya. UU No.23,1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa: Kesehatan adalah
keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif
secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat
sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial
dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan.
C. Konsep
sehat menurut Parkins
Konsep
sehat menurut Parkins (1938) adalah suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk dan
fungsi tubuh dan berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya.
D.
Menurut
White
Menurut
White (1977), sehat
adalah suatu keadaan dimana seseorang pada waktu diperiksa tidak mempunyai
keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda suatu penyakit dan kelainan.
E. Menurut
Dian Mohammad Anwar
Menurut Dian Mohammad Anwar dari Foskos
Kesweis (Forum Komunikasi dan Studi Kesehatan Jiwa Islami Indonesia),
pengertian kesehatan dalam Islam lebih merujuk kepada pengertian yang
terkandung dalam kata afiat. Konsep Sehat dan Afiat itu mempunyai makna yang
berbeda kendati tak jarang hanya disebut dengan salah satunya, karena
masing-masing kata tersebut dapat mewakili makna yang terkandung dalam kata
yang tidak disebut. Dalam kamus bahasa arab sehat diartikan sebagai keadaan
baik bagi segenap anggota badan dan afiat diartikan sebagai perlindungan Allah
SWT untuk hamba-Nya dari segala macam bencana dan tipudaya. Perlindungan Allah
itu sudah barang tentu tidak dapat diperoleh secara sempurna kecuali bagi
orang-orang yang mematuhi petunjuk-Nya. Dengan demikian makna afiat dapat
diartikan sebagai berfungsinya anggota tubuh manusia sesuai dengan tujuan
penciptaannya.
v Konsep-Konsep
Kesehatan Dikembangkan Berdasarkan :
1.
Dimensi
Emosional
Menurut Goleman, emosional merupakan
hasil campur dari rasa takut, gelisah, marah, sedih, senang. Orang yang sehat
secara emosi dapat terlihat dari kesetabilan dan kemampuannya mengontrol dan
mengekspresikan perasaan (marah, sedih atau senang) secara tidak berlebihan.
2.
Dimensi
Intelektual
Kesehatan
intelektual meliputi usaha untuk secara terus-menerus tumbuh dan belajar untuk beradaptasi
secara efektif dengan perubahan baru. Bagaimana seseorang berfikir, wawasannya,
pemahamannya, alasannya, logika dan pertimbangnnya. Dikatakan sehat
secara intelektual yaitu jika seseorang memiliki kecerdasan dalam
kategori yang baik mampu melihat realitas. Memilki nalar yang baik dalam
memecahkan masalah atau mengambil keputusan.
3.
Dimensi Fisik
Menurut
dimensi fisik, seseorang dikatakan sehat secara fisiologis (fisik) bila
terlihat normal, tidak cacat, tidak mudah sakit, tidak kekurangan sesuatu
apapun. Kesehatan fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh
sakit atau tidak adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit.
Semua organ tubuh berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan.
4.
Dimensi Sosial
Kesehatan
sosial terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain atau
kelompok lain secara baik, tanpa membedakan ras, suku, agama atau kepercayan,
status sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya, serta saling toleran dan menghargai.
Sehat secara sosial dapat dikatakan mereka yang bisa berinteraksi dan
berhubungan baik dengan sekitarnya mampu untuk bekerja sama. Tingkah laku
manusia dalam kelompok sosial, keluarga, pernihakan, dan sesama lainnya,
penerimaan norma sosial dan pengendalian tingkah laku.
5.
Dimensi Spiritual
Spiritual
merupakan kehidupan kerohanian. Dengan menyerahkan diri dengan bersujud dengan
kepercayaan agama masing-masing. Sementara orang yang sehat secara spiritual
adalah mereka yang memiliki suatu kondisi ketenangan jiwa dengan id mereka.
Secara rohani dianggap sehat karena pikirannya jernih tidak melakukan atau
bertindak hal-hal yang diluar batas kewajaran sehingga bisa berpikir rasional.
Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur,
pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana
ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa.
v Contoh Kasus :
Jalan hidup seorang gadis dari China
yang kehilangan separuh anggota badannya menjadi lebih berarti berkat bola
basket.
Seorang gadis bernama Qian Hongyan (16) ini
tidak cacat sejak lahir, ia kehilangan sebagian tubuhnya ketika berumur tiga
tahun. Pada tahun 2000 ia mengalami sebuah kecelakaan lalu lintas, akibat dari
kecelakaan tersebut ia harus kehilangan kaki dan pinggulnya. Dokter terpaksa
mengamputasi kedua kaki dan pinggulnya untuk mempertahankan kelangsungan
hidupnya. Sungguh berat coban yang menimpa Qian. Disaat anak seusianya
berlarian, ia hanya bisa melihat. Karena miskin, keluarganya tidak sanggup
memberikan kaki palsu untuk membantu Qian kecil berjalan. Namun keluarganya
menyadari Qian butuh alat bantu agar leluasa bergerak. Merekapun memutar otak
dan mencari jalan untuk memudahkan gerak Qian. Pada akhirnya ditemukan alat
bantu yang sangat sederhana yaitu bola basket. Bola basket dipotong separuh dan
diletakan di bawah tubuh Qian. Agar tidak terlepas dari tubuh, bola basket itu
diikat dengan tubuh Qian menggunakan kain. Bola basket itu digunakan untuk
menopang tubuh Qian. Ia berjalan dengan mendorong tubuhnya yang ditopang bola
basket itu dan kedua tangannya memegang kayu penyangga yang membantunya
bergerak dan menyeimbangkan langkahnya. Dengan alat bantu itu, Qian bisa
mandiri, ia bisa melakukan kegiatan pribadi tanpa bantuan orang lain. Dengan
keadaannya, Qian ttp tersenyum, ia nyaris tidak pernah mengeluh atas takdir
yang menimpanya.
Ia pun tidak resah ketika orang di
sekitarnya menjuluki dirinya sebagai gadis bola basket. Dia memandang masa
depan dengan optimis dan selalu bersemangat. Meski dalam kondisi tidak normal,
Qian tetap bersemangat pergi ke sekolah. ia pulang pergi sendiri dengan bola
basket dan penyangga kayunya. Ia menyusuri jalan menuju sekolahnya yang berada
di desanya. Untuk ukuran anak normal, mungkin jarak tempuh itu tidak jauh tapi
untuk ukuran Qian yang harus menyeret tubuhnya, jarak itu terhitung jauh. Namun
ia acuh dengan itu, ia tetap bersemangat pergi ke sekolah. ia berusaha
mengaktualisasikan dirinya. Meski cacat, ia ingin berprestasi dan olahraga
menjadi pelariannya. Awal ketertarikan Qian terhadap olahraga berawal dari
ketidaksengajaan. Ceritanya, suatu saat orangtuanya mengikutsertakan Qian dalam
terapi basket untuk meningkatkan daya tahan mental dan fisiknya. Ternyata,
terapi itu berhasil. Sejak itu, Qian tumbuh menjadi anak yang percaya diri. Dia
tidak pernah minder dengan kekurangannya. Hidupnya dipenuhi hasrat untuk berprestasi. Bukan hanya mentalnya yang kuat,
ia pun akhirnya lihai bermain basket. Meski tak memiliki sepasang kaki, Qian
kecil sangat lincah di lapangan. Penampilan Qian bermain basket di lapangan
sangat mengharukan tapi sekaligus memukau. Tak ketika tampil di lapangan,
kamera wartawan lebih sering menyorotnya. Mengetahui pemberitaan itu, seorang
gadis yang berjalan dengan bola basket dan lihai bermain basket, sekelompk dokter
dari China terharu dengan semangat yang
luar biasa itu. Akhirnya, mereka membuatkan sepasang kaki palsu untuk Qian.
Tahun 2005 Qian mulai berjalan menggunakan kaki palsu. Qian mengaku senang
dengan sepasang kaki palsunya, namun ia mengaku lebih suka menggunakan separuh
bola basketnya untuk naik dan turun ke kolam renang. Menurutnya, boal basket
lebih memudahkan geraknya ketika di koalm renang. pada mei 2007, digelar
olimpiade Anak Cacat di Kunming, China. Qian sangat menyukai acara itu, ia tak
pernah absen dating dan menyaksikan olimpiade itu. Ia melihat kekuatan dan
kegigihan kaum diafabel dalam bertanding. Ia pun terinspirasi. Setelah
perhelatan itu selesai, Qian memutuskan untuk bergabung dengan klub renang
khusus. Di klub renang itu ia mulai belajar renang, sesuatu yang tak bisa ia
lakukan selama ini. Qian Hongyan belajar sangat keras. Ia tak pernah mengeluh
selama latihan meskipun ia menghadapi banyak sekali kesulitan di awal-awal. Ia
terus berlatih dan berlatih, itu yang selalu ia lakukan. Dalam kurun waktu yang
relatif singkat, Qian banyak sekali kemajuan. Ia memiliki bakat yang sangat
luar biasa hebat dalam bidang olahraga renang ini. Qian tak pernah patah
semangat. Semangat juangnya yang tinggi diiringi latihan rutin membuat Qian
menembus pelatnas tim renang China.
v Analisis kasus :
Berdasarkan kasus di atas, kita dapat
mengetahui bahwa seorang yang memiliki keterbatasan fisik dapat juga
melangsungkan kehidupannya layaknya orang normal. Masa kecil Qian tidak seperti
anak pada umumnya karena Qian harus menerima kenyataan pahit, ia kehilangan
kedua kaki dan pinggulnya. Qian mendapati cemoohan dari lingkungan sosialnya
namun ia tidak memperdulikan hal itu. Dengan fisik yang seperti itu Qian
menjalani kehidupan dan aktifitas seperti biasanya, pergi ke sekolah, belajar
dan lain-lain karena ia tidak ingin keterbatasannya tersebut menjadi penghalang
untuk berprestasi. Selain itu, Qian juga berprestasi dalam bidang olahraga
renang. selain renang, Qian juga lihai dalam bermain basket dan senam. Jadi,
walaupun kondisi fisik Qian tidak sempurna pada umumnya, ia memiliki
itelektual, emosiaonal dan spiritual yang sehat.
Pada dasarnya kita yang memiliki kondisi
fisik yang sempurna bisa mencontoh semangat juang dan rasa percaya diri yang
dimiliki Qian untuk berprestasi dan menjalani hidup sebagai mana layaknya
menjalani hidup ini.