Senin, 30 Maret 2015

Konsep sehat berdasarkan dimensi



v Sejarah Perkembangan Kesehatan Mental
Penyakit mental sama usianya dengan manusia. Meskipun secara mental belum maju, nenek moyang homo sapiens mengalami gangguan-gangguan mental seperti halnya dengan homo sapiens sendiri. Mereka dan keturunan mereka sangat takut akan predator. Mereka menderita berbagai kecelakaan dan demam yang merusak mental mereka, dan mereka juga merusak mental orang-orang lain pada perkelahian-perkelahian. Sejak itu manusia dengan rasa putus asaselalu berusaha menjelaskan penyakit mental, mengatasinya, dan memulihkan kesehatan mental. Mula-mula penjelasannya sederhana, ia menghubungkan kekalutan-kekalutan mental dengan gejala-gejala alam, pengaruh buruk orang lain, atau roh-roh jahat.
Semua nenek moyang homo sapiens kadang-kadang harus memperhatikan kesehatan mental. Ia mungkin menghibur seorang kawannya yang sedang kebingungan, atau berteriak dengan menatap ke langit yang gelap untuk menjernihkan pikirannya ketika bangun dari mimpi buruk dicakar harimau. Dewasa ini juga manusia masih berusaha menjelaskan penyakit mental dan persoalan menghilangkan penyakit mental itu dan hal ini merupakan teka teki yang paling sulit selama berabad-abad.
Kita dapat membandingkan persoalan-persoalan mental dengan mata uang yang mempunyai dua sisi di mana sisi yang satu sakit sedangkan sisi yang lain sehat. Hari ini tampaknya kemungkinan untukmelihat kedua sisi itu kira-kira 50 : 50, tetapi mungkin hari esok akan lain lagi ceritanya karena ilmu pengetahuan mungkin akhirnya akan menguasai persoalan-persoalan mental sesuatu yang paling sulit dari semua bidang untuk diteliti. Sebelum hari esok dan selagi hari ini masih berlangsung, marilah kita memperhatikan sejenak masa lampau mental manusia serta gangguannya. Retrospeksi akan memberikan perspektif dan kerangka untuk memahami apa yang dihadapi sekarang dan kemungkinan-kemungkinan masa depan.
Hanya perlu diketahui di sini bahwa sejarah yang tercatat melaporkan berbagai macam interpretasi mengenai penyakit mental dan cara-cara menguranginya atau menghilangkannya. Pada umumnya hal tersebut mencerminkan tingkat pengetahuan dan kecenderungan-kecenderungan religious, filosofis, dan keyakinan-keyakinan serta kebiasaan-kebiasaan masyarakat zaman itu. Tidak mengherankan bahwa usaha-usaha lebih awal dalam menangani masalah tersebut penuh dengan kesulitan, dan perkembangan ilmu kesehatan mental sendiri sangat lambat. Hal ini disebabkan oleh dua alasan, pertama, sifat dari masalah-masalah yang disebabkan oleh tingkah laku abnormal membuatnya menjadi hal tersendiri karena perasaan takut, malu, dan bersalah dalam keluarga-keluarga dan masyarakat dari para pasien. Oleh karena itu, penanganan terhadap orang-orang yang sakit mental diserahkan kepada Negara atau lembaga agama yang menjadi pelindung baik tingkah laku kelompok maupun tingkah laku individu. Kedua, perkembangan semua ilmu pengetahuan begitu lambat dan sporadis, dan banyak kemajuan sangat penting yang telah dicapai mendapat perlawanan yang sangat keras. Ini merupakan hal yang khas bagi ilmu kesehatan mental dibandingkan dengan disiplin-disiplin ilmu yang lain. Dalam meninjau kisah historis yang berikut, orang hendaknya menahan diri untuk memandang dengan perasaan khawatir atau mengkritik terlalu pedas. Meskipun benar bahwa pada masa-masa awal orang yang sakit mental dipahami secara salah atau sering diperlakukan dengan kurang baik, namun banyak orang normal/sehat bukanlah orang-orang yang paling bahagia.

v  Konsep Sehat Berdasarkan Dimensi
Konsep sehat pada masyarakat awam lebih merujuk kepada keadaan fisik jasmaniah seseorang yaitu sehat atau sakit. Akan tetapi sesungguhnya konsep sehat tidak hanya  dari segi fisik saja, tedapat dimensi-dimensi lain seperti emosi, intelektual, sosial dan spiritual. Sehat sendiri dapat dikatakan sebagai suatu kondisi normal, nyaman dan bahagia baik secara fisik , emosi (EQ), intelektual (IQ), spritual (SQ) dan sosial. Serta dapat melakukan aktivitas sehari-hari tanpa terganggu. Sedangkan sakit itu sendiri diartikan sebagai keadaan fisik tubuh yang terganggu yang menyebabkan perasaan tidak nyaman dan tidak mengenakan.
Berikut ini ada beberapa pengertian sehat :
A.    Menurut WHO
Menurut WHO (1947) Sehat itu sendiri dapat diartikan bahwa suatu keadaan yang sempurna baik secara fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit atau kelemahan (WHO, 1947). Definisi WHO tentang sehat mempunyai karakteristik berikut yang dapat meningkatkan konsep sehat yang positif (Edelman dan Mandle 1994) :
1.      Memperhatikan individu sebuah  sistem  yang menyeluruh
2.      Memandang sehat dengan  mengidentifikasi lingkungan  internal  dan eksternal.
3.      Penghargaan terhadap pentingnya peran individu dalam hidup.
B.     Sehat menurut DEPKES RI
Konsep sehat dan sakit sesungguhnya tidak terlalu mutlak dan universal karena ada faktor -faktor lain di luar kenyataan klinis yang mempengaruhinya terutama faktor sosial budaya. Setiap pengertian saling mempengaruhi dan pengertian yang satu hanya dapat dipahami dalam konteks pengertian yang lain. Banyak ahli filsafat, biologi, antropologi, sosiologi, kedokteran, dan lain-lain bidang ilmu pengetahuan telah mencoba memberikan pengertian tentang konsep sehat dan sakit ditinjau dari masing-masing disiplin ilmu. Masalah sehat dan sakit merupakan proses yang berkaitan dengan kemampuan atau ketidakmampuan manusia beradaptasi dengan lingkungan baik secara biologis, psikologis maupun sosio budaya. UU No.23,1992 tentang Kesehatan menyatakan bahwa: Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Dalam pengertian ini maka kesehatan harus dilihat sebagai satu kesatuan yang utuh terdiri dari unsur-unsur fisik, mental dan sosial dan di dalamnya kesehatan jiwa merupakan bagian integral kesehatan.
C.     Konsep sehat menurut Parkins
Konsep sehat menurut Parkins (1938) adalah suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dan berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya.
D.    Menurut White
Menurut White (1977), sehat adalah suatu keadaan dimana seseorang pada waktu diperiksa tidak mempunyai keluhan ataupun tidak terdapat tanda-tanda suatu penyakit dan kelainan.
E.     Menurut Dian Mohammad Anwar
 Menurut Dian Mohammad Anwar dari Foskos Kesweis (Forum Komunikasi dan Studi Kesehatan Jiwa Islami Indonesia), pengertian kesehatan dalam Islam lebih merujuk kepada pengertian yang terkandung dalam kata afiat. Konsep Sehat dan Afiat itu mempunyai makna yang berbeda kendati tak jarang hanya disebut dengan salah satunya, karena masing-masing kata tersebut dapat mewakili makna yang terkandung dalam kata yang tidak disebut. Dalam kamus bahasa arab sehat diartikan sebagai keadaan baik bagi segenap anggota badan dan afiat diartikan sebagai perlindungan Allah SWT untuk hamba-Nya dari segala macam bencana dan tipudaya. Perlindungan Allah itu sudah barang tentu tidak dapat diperoleh secara sempurna kecuali bagi orang-orang yang mematuhi petunjuk-Nya. Dengan demikian makna afiat dapat diartikan sebagai berfungsinya anggota tubuh manusia sesuai dengan tujuan penciptaannya.

v Konsep-Konsep Kesehatan Dikembangkan Berdasarkan :
1.      Dimensi Emosional
Menurut Goleman, emosional merupakan hasil campur dari rasa takut, gelisah, marah, sedih, senang. Orang yang sehat secara emosi dapat terlihat dari kesetabilan dan kemampuannya mengontrol dan mengekspresikan perasaan (marah, sedih atau senang) secara tidak berlebihan.
2.      Dimensi Intelektual
Kesehatan intelektual meliputi usaha untuk secara terus-menerus tumbuh dan belajar untuk beradaptasi secara efektif dengan perubahan baru. Bagaimana seseorang berfikir, wawasannya, pemahamannya, alasannya, logika dan pertimbangnnya. Dikatakan sehat  secara intelektual yaitu jika seseorang memiliki kecerdasan dalam kategori yang baik mampu melihat realitas. Memilki nalar yang baik dalam memecahkan masalah atau mengambil keputusan.
3.      Dimensi Fisik
Menurut dimensi fisik, seseorang dikatakan sehat secara fisiologis (fisik) bila terlihat normal,  tidak cacat, tidak mudah sakit, tidak kekurangan sesuatu apapun. Kesehatan fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan.
4.      Dimensi Sosial
Kesehatan sosial terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain atau kelompok lain secara baik, tanpa membedakan ras, suku, agama atau kepercayan, status sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya, serta saling toleran dan menghargai. Sehat secara sosial dapat dikatakan mereka yang bisa berinteraksi dan berhubungan baik dengan sekitarnya mampu untuk bekerja sama. Tingkah laku manusia dalam kelompok sosial, keluarga, pernihakan, dan sesama lainnya, penerimaan norma sosial dan pengendalian tingkah laku.
5.      Dimensi Spiritual
Spiritual merupakan kehidupan kerohanian. Dengan menyerahkan diri dengan bersujud dengan kepercayaan agama masing-masing. Sementara orang yang sehat secara spiritual adalah mereka yang memiliki suatu kondisi ketenangan jiwa dengan id mereka. Secara rohani dianggap sehat karena pikirannya jernih tidak melakukan atau bertindak hal-hal yang diluar batas kewajaran sehingga bisa berpikir rasional. Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana  ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa.

v Contoh Kasus :
Jalan hidup seorang gadis dari China yang kehilangan separuh anggota badannya menjadi lebih berarti berkat bola basket.
Seorang gadis bernama Qian Hongyan (16) ini tidak cacat sejak lahir, ia kehilangan sebagian tubuhnya ketika berumur tiga tahun. Pada tahun 2000 ia mengalami sebuah kecelakaan lalu lintas, akibat dari kecelakaan tersebut ia harus kehilangan kaki dan pinggulnya. Dokter terpaksa mengamputasi kedua kaki dan pinggulnya untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya. Sungguh berat coban yang menimpa Qian. Disaat anak seusianya berlarian, ia hanya bisa melihat. Karena miskin, keluarganya tidak sanggup memberikan kaki palsu untuk membantu Qian kecil berjalan. Namun keluarganya menyadari Qian butuh alat bantu agar leluasa bergerak. Merekapun memutar otak dan mencari jalan untuk memudahkan gerak Qian. Pada akhirnya ditemukan alat bantu yang sangat sederhana yaitu bola basket. Bola basket dipotong separuh dan diletakan di bawah tubuh Qian. Agar tidak terlepas dari tubuh, bola basket itu diikat dengan tubuh Qian menggunakan kain. Bola basket itu digunakan untuk menopang tubuh Qian. Ia berjalan dengan mendorong tubuhnya yang ditopang bola basket itu dan kedua tangannya memegang kayu penyangga yang membantunya bergerak dan menyeimbangkan langkahnya. Dengan alat bantu itu, Qian bisa mandiri, ia bisa melakukan kegiatan pribadi tanpa bantuan orang lain. Dengan keadaannya, Qian ttp tersenyum, ia nyaris tidak pernah mengeluh atas takdir yang menimpanya.
 
Ia pun tidak resah ketika orang di sekitarnya menjuluki dirinya sebagai gadis bola basket. Dia memandang masa depan dengan optimis dan selalu bersemangat. Meski dalam kondisi tidak normal, Qian tetap bersemangat pergi ke sekolah. ia pulang pergi sendiri dengan bola basket dan penyangga kayunya. Ia menyusuri jalan menuju sekolahnya yang berada di desanya. Untuk ukuran anak normal, mungkin jarak tempuh itu tidak jauh tapi untuk ukuran Qian yang harus menyeret tubuhnya, jarak itu terhitung jauh. Namun ia acuh dengan itu, ia tetap bersemangat pergi ke sekolah. ia berusaha mengaktualisasikan dirinya. Meski cacat, ia ingin berprestasi dan olahraga menjadi pelariannya. Awal ketertarikan Qian terhadap olahraga berawal dari ketidaksengajaan. Ceritanya, suatu saat orangtuanya mengikutsertakan Qian dalam terapi basket untuk meningkatkan daya tahan mental dan fisiknya. Ternyata, terapi itu berhasil. Sejak itu, Qian tumbuh menjadi anak yang percaya diri. Dia tidak pernah minder dengan kekurangannya. Hidupnya dipenuhi hasrat untuk  berprestasi. Bukan hanya mentalnya yang kuat, ia pun akhirnya lihai bermain basket. Meski tak memiliki sepasang kaki, Qian kecil sangat lincah di lapangan. Penampilan Qian bermain basket di lapangan sangat mengharukan tapi sekaligus memukau. Tak ketika tampil di lapangan, kamera wartawan lebih sering menyorotnya. Mengetahui pemberitaan itu, seorang gadis yang berjalan dengan bola basket dan lihai bermain basket, sekelompk dokter dari China terharu dengan semangat  yang luar biasa itu. Akhirnya, mereka membuatkan sepasang kaki palsu untuk Qian. Tahun 2005 Qian mulai berjalan menggunakan kaki palsu. Qian mengaku senang dengan sepasang kaki palsunya, namun ia mengaku lebih suka menggunakan separuh bola basketnya untuk naik dan turun ke kolam renang. Menurutnya, boal basket lebih memudahkan geraknya ketika di koalm renang. pada mei 2007, digelar olimpiade Anak Cacat di Kunming, China. Qian sangat menyukai acara itu, ia tak pernah absen dating dan menyaksikan olimpiade itu. Ia melihat kekuatan dan kegigihan kaum diafabel dalam bertanding. Ia pun terinspirasi. Setelah perhelatan itu selesai, Qian memutuskan untuk bergabung dengan klub renang khusus. Di klub renang itu ia mulai belajar renang, sesuatu yang tak bisa ia lakukan selama ini. Qian Hongyan belajar sangat keras. Ia tak pernah mengeluh selama latihan meskipun ia menghadapi banyak sekali kesulitan di awal-awal. Ia terus berlatih dan berlatih, itu yang selalu ia lakukan. Dalam kurun waktu yang relatif singkat, Qian banyak sekali kemajuan. Ia memiliki bakat yang sangat luar biasa hebat dalam bidang olahraga renang ini. Qian tak pernah patah semangat. Semangat juangnya yang tinggi diiringi latihan rutin membuat Qian menembus pelatnas tim renang China.
v Analisis kasus :
Berdasarkan kasus di atas, kita dapat mengetahui bahwa seorang yang memiliki keterbatasan fisik dapat juga melangsungkan kehidupannya layaknya orang normal. Masa kecil Qian tidak seperti anak pada umumnya karena Qian harus menerima kenyataan pahit, ia kehilangan kedua kaki dan pinggulnya. Qian mendapati cemoohan dari lingkungan sosialnya namun ia tidak memperdulikan hal itu. Dengan fisik yang seperti itu Qian menjalani kehidupan dan aktifitas seperti biasanya, pergi ke sekolah, belajar dan lain-lain karena ia tidak ingin keterbatasannya tersebut menjadi penghalang untuk berprestasi. Selain itu, Qian juga berprestasi dalam bidang olahraga renang. selain renang, Qian juga lihai dalam bermain basket dan senam. Jadi, walaupun kondisi fisik Qian tidak sempurna pada umumnya, ia memiliki itelektual, emosiaonal dan spiritual yang sehat.
Pada dasarnya kita yang memiliki kondisi fisik yang sempurna bisa mencontoh semangat juang dan rasa percaya diri yang dimiliki Qian untuk berprestasi dan menjalani hidup sebagai mana layaknya menjalani hidup ini.