Logotherapy
Logoterapi diperkenalkan oleh Viktor Frankl, seorang
dokter ahli penyakit saraf dan jiwa (neuro-psikiater). Logoterapi
berasal dari kata “logos” yang dalam bahasa Yunani berarti makna (meaning)
dan juga rohani (spirituality), sedangkan terapi adalah penyembuhan atau
pengobatan. Logoterapi secara umum dapat digambarkan sebagai corak psikologi/
psikiatri yang mengakui adanya dimensi kerohanian pada manusia di samping
dimensi ragawi dan kejiwaan, serta beranggapan bahwa makna hidup (the meaning
of life) dan hasrat untuk hidup bermakna (the will of meaning)
merupakan motivasi utama manusia guna meraih taraf kehidupan bermakna (the
meaningful life) yang didambakannya.
Menurut Frankl logoterapi memiliki wawasan mengenai manusia
yang berlandaskan tiga pilar filosofis yang satu dengan lainya erat hubunganya
dan saling menunjang yaitu:
a.
Kebebasan
berkehendak (Freedom of Will)
Dalam pandangan Logoterapi manusia
adalah mahluk yang istimewa karena mempunyai kebebasan. Kebebasan disini
bukanlah kebebasan yang mutlak, tetapi kebebasan yang bertanggung jawab.
Kebebasan manusia bukanlah kebebasan dari (freedom
from) kondisi-kondisi biologis, psikologis dan sosiokultural tetapi lebih
kepada kebebasan untuk mengambil sikap (freedom
to take a stand) atas kondisi-kondisi tersebut. Kelebihan manusia yang lain
adalah kemampuan untuk mengambil jarak (to
detach) terhadap kondisi di luar dirinya, bahkan manusia juga mempunyai
kemampuan-kemampuan mengambil jarak terhadap dirinya sendiri (self detachment). Kemampuan-kemampuan
inilah yang kemudian membuat manusia disebut sebagai “the self deteming being” yang berarti manusia mempunyai kebebasan
untuk menentukan sendiri apa yang dianggap penting dalam hidupnya.
b.
Kehendak
Hidup Bermakna (The Will to Meaning)
Menurut Frankl, motivasi hidup
manusia yang utama adalah mencari makna. Ini berbeda denga psikoanalisa yang
memandang manusia adalah pencari kesenangan atau juga pandangan psikologi
individual bahwa manusia adalah pencari kekuasaan. Menurut logoterapi bahwa
kesenagan adalah efek dari pemenuhan makna, sedangkan kekuasaan merupakan
prasyarat bagi pemenuhan makna itu. Mengenal makna itu sendiri menurut Frankl
bersifat menarik (to pull) dan
menawari (to offer) bukannya
mendorong (to push). Karena sifatnya
menarik itu maka individu termotivasi untuk memenuhinya agar ia menjadi
individu yang bermakna dengan berbagai kegiatan yang sarat dengan makna.
c.
Makna
Hidup (The Meaning Of Life)
Makna hidup adalah sesuatu yang
dianggap penting, benar dan didambakan serta memberikan nilai khusus bagi
seseorang. Untuk tujuan praktis makna hidup dianggap identik dengan tujuan
hidup. Makna hidup bisa berbeda antara manusia satu dengan yang lainya dan
berbeda setiap hari, bahkan setiap jam. Karena itu, yang penting bukan makna
hidup secara umum, melainkan makna khusus dari hidup seseorang pada suatu saat
tertentu. Setiap manusia memiliki pekerjaan dan misi untuk menyelesaikan tugas
khusus. Dalam kaitan dengan tugas tersebut dia tidak bisa digantikan dan
hidupnya tidak bisa diulang. Karena itu, manusia memiliki tugas yang unik dan
kesempatan unik untuk menyelesaikan tugasnya (Frankl, 2004).
Tujuan dari logoterapi adalah agar setiap
pribadi :
a.
Memahami adanya potensi dan sumber daya
rohaniah yang secara universal ada pada setiap orang terlepas dari ras, keyakinan
dan agama yang dianutnya.
b.
Menyadari bahwa sumber-sumber dan potensi
itu sering ditekan, terhambat dan diabaikan bahkan terlupakan.
c.
Memanfaatkan daya-daya tersebut untuk
bangkit kembali dari penderitaan untuk mamp[u tegak kokoh menghadapi berbagai
kendala, dan secara sadar mengembangkan diri untuk meraih kualitas hidup yang
lebih bermakna.
Karakteristik makna hidup menurut Victor Frankl adalah
sebagai berikut :
1.
Makna hidup itu bersifat
unik dan personal,
artinya apa yang dianggap oleh seseorang, belum tentu berarti bagi orang lain.
Bahkan apa yang dianggap penting dan bermakna pada saat ini oleh seseorang
belum tentu sama maknanya bagi orang itu pada waktu yang lain. Jadi, makna
hidup seseorang itu bersifat khusus, berbeda dengan orang lain, dan berubah
dari waktu ke waktu.
2.
Makna hidup itu bersifat
spesifik dan konkrit,
artinya dapat ditemukan dalam pengalaman dan kehidupan nyata sehari-hari dan
tidak selalu harus dikaitkan dengan tujuan-tujuan idealistis, prestasi-prestasi
akademis yang tinggi atau hasil renungan filosofis yang kreatif.
3.
Makna hidup itu bersifat
memberi pedoman dan arah
terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan sehingga makna hidup seakan-akan
menantang individu untuk memenuhinya. Jadi dalam pandangan logoterapi makna
hidup adalah: “Bertanggungjawab
terhadap hidupnya karena sikap bertanggung jawab merupakan esensi dasar
kehidupan manusia”.
Teknik
Konseling atau Terapis Logotherapy
Terapi Logo masih menginduk kepada aliran psikoanalisis, akan
tetapi menganut paham eksistensialisme. Mengenai teknik konseling, digunakan
semua teknik yang kiranya sesuai dengan kasus yang dihadapi. Tampaknya
kemampuan menggali hal-hal yang bermakna dari klien, amat penting.
Logotherapy
sebagai Teori Kepribadian
Kerangka pikir teori kepribadian model logoterapi dan
dinamika kepribadiannya dapat digambarkan sebagai berikut: Setiap orang selalu
mendambakan kebahagiaan dalam hidupnya. Dalam pandangan logoterapi kebahagiaan
itu tidak datang begitu saja, tetapi merupakan akibat sampingan dari
keberhasilan seseorang memenuhi keinginannya untuk hidup bermakna (the will
to meaning). Mereka yang berhasil memenuhinya akan mengalami hidup yang
bermakna (meaningful life) dan ganjaran (reward) dari hidup yang
bermakna adalah kebahagiaan (happiness).
Di lain pihak mereka yang tak berhasil memenuhi motivasi ini
akan mengalami kekecewaan dan kehampaan hidup serta merasakan hidupnya tidak
bermakna (meaningless). Selanjutnya akibat dari penghayatan hidup yang
hampa dan tak bermakna yang berlarut-larut tidak teratasi dapat mengakibatkan
gangguan neurosis (noogenik neurosis) mengembangkan karakter totaliter (totalitarianism)
dan konformis (conformism).
Daftar Pustaka
Border, B. Communication
Modernity & History. Hal 302-305. books.google.com/books?isbn=9791583056. Diakses tanggal
03 April 2016.
Gunarsa, Singgih D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT
BPK Gunung Mulia.