Pendahuluan
Dalam kehidupan manusia mempunyai sebuah kesehatan
dimana seseorang merasa baik dengan fisik dan mentalnya lebih tepatnya sehat
yaitu suatu kondisi yang bebas dari berbagai jenis penyakit baik secara fisik,
mental, maupun sosial. Konsep Sehat adalah keadaan normal yang sesuai dengan
standar yang diterima berdasarkan kriteria tertentu, sesuai jenis kelamin dan
komunitas masyarakat sekitarnya.
Kebanyakan orang bilang sehat itu mahal, tetapi
benarkah tentang fakta itu? menurut pendapat para Ilmu Kesehatan Dunia (WHO) ,
memang sehat itu mahal, karena kita harus memakan- makanan yang penuh dengan
gizi, akan kaya protein, zat besi, dan lain-lain.
Istilah sehat dalam kehidupan sehari-hari sering
dipakai untuk menyatakan bahwa sesuatu dapat bekerja secara normal. Bahkan
benda mati pun seperti kendaraan bermotor atau mesin, jika dapat berfungsi
secara normal, maka seringkali oleh pemiliknya dikatakan bahwa kendaraannya
dalam kondisi sehat. Kebanyakan orang mengatakan sehat jika badannya merasa
segar dan nyaman. Bahkan seorang dokterpun akan menyatakan pasiennya sehat
manakala menurut hasil pemeriksaan yang dilakukannya mendapatkan seluruh tubuh
pasien berfungsi secara normal.
Berikut ini saya akan membahas tentang konsep sehat
menurut Abraham Maslow yang dikenal sebagai pelopor aliran psikologi
humanistik. Sebelum kita mebahas konsep sehat menurut Abraham Maslow, alangkah
baiknya kita mengenal atau mengetahui terlebih dahulu mengenai pengertian dari
konsep sehat itu sendiri secara umum, agar kita lebih memahami sepenuhnya.
A. Pengertian
Konsep sehat
Konsep sehat adalah sebuah keadaan normal yang
sesuai dengan standar yang diterima berdasarkan kriteria tertentu, sesuai jenis
kelamin dan komunitas masyarakat. Sehat udara segar, sinar matahari, diet
seimbang, bekerja, istirahat, tidur, santai, kebersihan serta pikiran,
kebiasaan dan gaya hidup yang baik.
Pengertian sehat menurut WHO (Organisasi Kesehatan
Dunia) adalah suatu keadaan kondisi fisik, mental dan kesejahteraansosial yang
merupakan satu kesatuan dan bukan hanya bebas dari penyakit atau kecacatan.
Menurut Undang Undang Kesehatan NO. 23 tahun 1992
tentang kesehatan : sehat atau kesehatan adalah suatu keadaan sejahtera dari
badan (jasmani), jiwa (rohani) dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup
produktif secara sosial dan ekonomis.
Ada 3 komponen penting dalam definisi sehat yaitu
sehat jasmani, sehat mental (pikiran, emosiaonal dan spiritual) dan sehat
sosial. Sehat sosial mencakup status sosial kesejahteraan ekonomidan saling
toleransi dan menghargai.
1.
Sehat Statis
: adalah normalnya fungsi alat tubuh saat istirahat
2.
Sehat
Dinamis : adalah normalnya fungsi alat tubuh saat olahraga atau sedang bekerja.
Pasien dengan penyakit jantung contohnya,
dikategorikan dalam sehat statis karena kondisi sehat hanya pada istirahat.
Sehat dinamis adalah tingkat kesehatan yang ingin
dicapai oleh semua orang. Tubuh kita sehat pada saat olahraga atau istirahat.
Dengan tubuh yang sehat, kita dapat menikmati hidup lebih indah.
B. Teori
Abraham Maslow
Abraham
Maslow mengembangkan teori
kepribadian yang telah mempengaruhi sejumlah bidang yang berbeda,
termasuk pendidikan. Ini pengaruh luas karena sebagian tingginya tingkat
kepraktisan’s teori Maslow. Teori ini akurat menggambarkan realitas banyak dari
pengalaman pribadi. Banyak orang menemukan bahwa mereka bisa memahami apa kata
Maslow. Mereka dapat mengenali beberapa fitur dari pengalaman mereka atau
perilaku yang benar dan dapat diidentifikasi tetapi mereka tidak pernah
dimasukkan ke dalam kata-kata.
Maslow
adalah seorang psikolog
humanistik. Humanis tidak percaya bahwa manusia yang mendorong
dan ditarik oleh kekuatan mekanik, salah satu dari rangsangan dan bala bantuan
(behaviorisme) atau impuls naluriah sadar (psikoanalisis).
Humanis berfokus pada potensi. Mereka percaya bahwa manusia berusaha untuk
tingkat atas kemampuan. Manusia mencari batas-batas kreativitas, tertinggi
mencapai kesadaran dan kebijaksanaan. Ini telah diberi label “berfungsi penuh
orang”, “kepribadian sehat”, atau sebagai Maslow menyebut tingkat ini,
“orang-aktualisasi diri.”
Maslow
telah membuat teori hierarki kebutuhan.
Semua kebutuhan dasar itu adalah instinctoid, setara dengan naluri pada hewan.
Manusia mulai dengan disposisi yang sangat lemah yang kemudian kuno sepenuhnya
sebagai orang tumbuh. Bila lingkungan yang benar, orang akan tumbuh lurus dan
indah, aktualisasi potensi yang mereka telah mewarisi. Jika lingkungan tidak
“benar” (dan kebanyakan tidak ada) mereka tidak akan tumbuh tinggi dan lurus
dan indah.
C. Konsep Sehat
Abraham Maslow
Abraham Maslow dikenal sebagai pelopor aliran
psikologi humanistic. Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan
menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan
hari ini adalah teori tentang hierarchy of Needs atau Hirarki Kebutuhan.
Kehidupan keluarganya dan pengalaman hidupnya memberi pengaruh atas
gagasan-gagasan psikologisnya. Setelh [erang dunia ke dua, Maslow mulai
mempertanyakan bagaimana psikolog-psikolog sebelumnya tentang pikiran manusia,
walau tidak menyangkal sepenuhnya, namun ia memiliki gagasan sendiri untuk
mengerti jalan pikir manusia.
Psikolog humanis percaya bahwa setiap orang
memiliki keinginan yang kuat untuk merealisasikan potensi-potensi dalam dirinya
untuk mencapai tingkatan aktualisasi diri. Untuk membuktikan bahwa manusia
tidak hanya bereaksi terhadap situasi yang terjadi di sekelilingnya, tapi untuk
mencapai sesuatu yang lebih. Maslow mempelajari seseorang dengan keadaan mental
yang sehat, dibanding mempelajari seseorang dengan masalah kesehatan mental.
Hal ini menggambarkan bahwa manusia baru dapat mengalami “puncak pengalamannya”
saat manusia tersebut selaras dengan dirinya maupun sekitarnya. Dalam pandangan
Maslow, manusia yang mengaktualisasikan dirinya, dapat memiliki banyak puncak
dari pengalaman disbanding manusia yang kurang mengaktualisasi dirinya.
Maslow menggunakan piramida sebagai peraga untuk
mengvisualisasi gagasannya mengenai teori hirarki kebutuhan menurut Maslow,
manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhanhidupnya.
Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang
paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi
(aktualisasi diri).
Adapun hirarki kebutuhan tersebut adalah sebagai
berikut :
1.
Kebutuhan
fisiologis atau dasar
Pada tingkat yang paling bawah, terdapat kebutuhan
yang bersifat fisiologik (kebutuhan akan udara, makanan, minuman, dan
sebagainya) yang ditandai oleh kekurangan (defisi) sesuatu dalam tubuh orang
yang bersangkutan. Kebutuhan ini dinamakan juga kebutuhan dasar (basic needs)
yang jika tidak dipenuhi dalam keadaan yang sangat ekstrim (misalnya kelaparan)
bisa menyebabkan manusia yang bersangkutan kehilangan kendali atas perilakunya
sendiri karena seluruh kapasitas manusia tersebut dikerahkan dan dipusatkan
hanya untuk memenuhi kebutuhan dasarnya itu. Sebaliknya, jika kebutuhan dasar
ini relatif, sudah tercukupi, munculah kebutuhan yang lebih tinggi yaitu
kebutuhan akan rasa aman (safety needs).
2.
Kebutuhan
akan rasa aman
Jenis kebutuhan yang kedua ini berhubugan dengan
jaminan keamanan, stabilitas, perlindungan, struktur, keteraturan, situasi yang
bisa diperkirakan, bebas dari rasa takut, cemas, dan sebagainya. Karena adanya
kebutuha inilah maka manusia membuat peraturan, undang-undang, mengembangkan
kepercayaan, membuat sistem, asuransi, pension, dan sebagainya. Sama halnya
dengan basic needs, kalu safety needs ini terlalu lama dan terlalu banyak tidak
terpenuhi, maka pandangan seseorang tentang dunianya bisa terpengaruh dan pada
gilirannya pun perilakunya akan cenderung ke arah yang makin negatif.
3.
Kebutuhan
untuk dicintai dan disayangi
Setelah kebutuhan dasar dan rasa aman relatif
dipenuhi, maka timbul kebutuha untuk dimiliki dan dicintai. Setiap orang ingin
mempunyai hubungan yang hangat dan akrab, bahkan mesra dengan orang lain. Ia
ingin mencintai dicintai. Setiap orang ingin setia kawan dan butuh
kesetiakawanan. Setiap orangpun ingin mempunyai kelompoknya sendir, ingin punya
“akar” dalam masyarakat. Setiap orang butuh menjadi bagian dalam sebuah
keluarga, sebuah kampung, suaru marga, dll. Setiap orang yang tidak mempunyai
keluarga akan merasa sebatang kara, sedangkan orang yang tidak sekolah dan
tidak bekerja merasa dirinya pengaguran yang tidak berharga. Kondisi seperti
ini akan menurunkan harga diri orang yang bersangkutan.
4.
Kebutuhan
untuk dihargai
Di sisi lain, jika kebutuhan tingkat tiga relative
sudah terpenuhi, maka timbul kebutuhan akan harga diri (esteem need). Ada dua
macam akan kebutuhan akan harga diri. Pertama, adalah kebutuhan-kebutuhan akan
kekuatan, penguasaan, kompetensi, percaya diri, dan kemandirian. Sedangkan yang
kedua adalah kebutuhan akan penghargaan dari orang lain, status, ketenaran,
dominasi, kebanggaan, dianggap penting dan apresiasi dari orang lain.
Orang-orang yang terpenuhi kebutuhannya akan harga diri akan tampil sebagai
orang yang percaya diri, tidak tergantung pada orang lain dan selalu siap untuk
berkembang terus untuk selanjutnya meraih kebutuhan yang tertinggi yaitu
aktualisasi diri (self actualization).
5.
Kebutuhan
untuk aktualisasi diri
Kebutuhan aktualisasi diri merupakan kebutuhan yang
terdapat 17 meta kebutuhan yang tidak tersusun secara hirarki, melainkan saling
mengisi. Jika berbagai meta kebutuhan tidak terpenuhi maka akan terjadi meta
patologi seperti apatisme, kebosanan, putus asa, tidak punya rasa humor lahi,
keterasingan, mementingkan diri sendiri, kehilangan selera dan sebagainya.
Seperti yang disebutkan diatas,
menurut Maslow jika tingkat kebutuhan aktualisasi diri tidak dapat terpenuhi,
maka kita tidak bisa disebut sebagai manusia yang sehat secara psikologis.
Maslow juga menyebutkan bahwa orang yang sehat adalah orang yang mampu
mengaktualisasikan diri mereka dengan baik dan imbang, mereka juga dapat
memperhatikan kebutuhan-kebutuhan yang lebih tinggi yaitu memenuhi
potensi-potensi yang mereka miliki serta mengetahui dan memahami dunia sekitar
mereka. orang-orang yang mengaktualisasikan diri itu tidak berjuang, tetapi
mereka berusaha, Maslow menyebut teori ini dalam “metamotivation”. Ia juga
menulis “Motif yang paling tinggi ialah tidak didorong dan tidak berjuang”, itu
berarti memang orang yang mampu mengaktualisasikan diri tidak berjuang
melainkan berusaha.
Menurut Maslow syarat untuk
mencapai aktualisasi diri adalah memuaskan kebutuhan-kebutuhan yang tadi telah
disebutkan, yaitu memuaskan hierarki empat kebutuhan aka rasa aman, cinta kasih
serta penghargaan diri. Dan kebutuhan ini harus terpenuhi sebelum timbul
kebutuhan akan aktualisasi diri.
Selain itu kepribadian yang sehat
menurut Maslow adalah individu yang berhasil mengembangkan cintanya, bukan lagi
diarahkan ke dalam diri sendiri, tetapi bisa diperluas pada orang-orang lain.
Individu yang sehat melihat pertumbuhan dan perkembangan orang lain menjadi
sama pentingnya pertumbuhan dan perkembangan sendiri. Maslow juga meyatakan
bahwa pertumbuhan psikologis akan menghasilkan kesehatan psikologis, sedangkan
orang yang gagal bertumbuh dengan sendirinya akan mengalami gejala patologi
baik mental maupun fisik.
D. Ciri-ciri
Kepribadian Sehat
Berikut ini adalah beberapa ciri kepribadian sehat
1.
Menerima
realitas secara tepat
2.
Menerima
diri dan orang lain apa adanya
3.
Bertindak
secara spontan dan alamiah, tidak dibuat-buat
4.
Memusatkan
pada masalah-masalah bukan pada perseorangan
5.
Memiliki
kekuasaan dan tidak bergantung pada orang lain
6.
Memiliki
ruang untuk diri pribadi
7.
Menghargai
dan terbuka akan pengalaman-pengalaman dan kehidupan baru
8.
Memiliki
pengalaman-pengalaman yang memuncak
9.
Memiliki
identitas sosial dan minat sosial yang kuat
10. Memiliki relasi yang akrab dengan beberapa teman
11. Mengarah pada nilai-nilai demokratis
12. Memiliki nilai-nilai moral yang tangguh
13. Memiliki rasa humor yang tinggi
14. Menemukan hal-hal baru, ide-ide segar, dan kreatif
15. Memiliki intergritas tinggi yang total
E. Contoh Kasus
Kasus Bullying banyak terjadi diberbagai tempat,
namun paling umum di lembaga pendidikan (Sekolah dan Kampus) dan di tempat
kerja. Sebagian besar korbannya adalah orang baru di lingkungan tersebut.
Banyak guru yang bertugas sebagai guru BK / BP di sekolah yang memberikan
konseling pada para pelaku Bullying agar mereka tidak mengulangi perbuatannya.
Salah satu contoh kasus bullying yang terjadi
dialami oleh Okke Budiman, siswa kelas 1 SMA 46 mengaku dianiaya oleh seniornya
siswa kelas 3. Kejadiannya berawal saat pelaku berinisial B sering meminjam
motor Okke. B disebut-sebut pentolan siswa kelas 3 si SMA 46. Menurut Ayah
Okke, Ceppy Budiman, B sering meminjam motor anaknya dengan memaksa dan
perlakuan kasar. Seperti mengembalikannya tengah malam dan mengembalikannya
dengan sangat tidak sopan dan tidak berterimakasih seperti menendang motor dan
meludahinya. “ujar Ceppy melalui surat elektronik yang diterima deticom, sabtu
(3/4/2010).
Kejadiannya berawal pada 17 Februari lalu. Saat
itu, kata Ceppy, anaknya langsung pulang tanpa izi B saat bubaran sekolah.
namun, niat itu malah berbuah naas. Dia dipaksa dipanggil dengan ancaman akan
dihabisi besok hari apabila dia tidak menggubris panggilannya. Dengan dikelilingi
senior-seniornya yang lain, anak saya mengalami beberapa pemukulan dengan helm
dan tangan kosong, tendangan di punggung, dan 5 sundutan rokok di lengan
kanannya dalam keadaan kesakitan. Okkie malah sempat trauma beberapa hari.
Sore itu jam 03.00 WIB langsung bersama anak anak
saya pergi ke sekolah SMA 46 di Jl. Fatmawati untuk melapor kejadian ini kepada
guru-guru dan kepala sekolah, saat itu mereka berjanji untuk menyelesaikan
masalah ini seadil-adilnya,” Jelasnya. Tak puas, Ceppy juga melaporkan B ke
Polres Jakarta Selatan. Ceppy resmi melaporkan B melalui Laporan Polisi no
265/K/II/2010/Res.Jaksel tanggal 17 Februari dengan tuduhan penganiayaan berat.
Namun, Ceppy belum mengetahui perkembangan kasus anaknya hingga sejarang. Setahu
saya kepala sekolah dan guru-guru sudah di BAP,” terang pria yang bekerja
sebagai advertsing ini. Akibat penganiayaan tersebut, lanjut Ceppy, anaknya
mengalami trauma cukup dalam. Akhirnya ia berinisiatif untuk mengeluarkan Okkie
dari SMA 46. Saya tidak banyak menuntut, sudahlah saya keluarkan anak saya.
Sekarang dia Home Schooling saja,” tandasnya.
F. Analisis
Kasus
Kasus yang terjadi di atas terhadap gangguan
kesehatan mental yang terjadi pada korban bullying tersebut berdampak negatif. Gangguan
tersebut korban menjadi merasa terintimidasi dan mengalami trauma hingga
beberapa hari, yang jika dibiarkan sang korban akan menutup diri dari kehidupan
sosial dan depresi. Akibat dari kejadian
tersebut, korban akan mengalami hari-harinya yang tidak begitu nyaman dari
sebelumnya. Seperti halnya korban tersebut merasa ketakutan dan akan mengurung
diri, tidak ceria seperti biasanya dan akan menarik diri sulit untuk
bersosialisasi. Karena dia akan merasa orang-orang yang di luar sana lebih
banyak yang membencinya dari pada menyayanginya. Mungkin butuh waktu yang
sangat lama untuk memulihkan kembali keadaan psikologisnya.
Sumber :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar