B.
Internet Addiction
Young (1996) mendefinisikan internet
addiction sebagai sebuah impulse-control disorder yang bukan disbabkan oleh
minuman keras. Young juga menmbahkan definisi internet addiction adalah
pemakaian internet yang berlebihan sampai mengganggu pola tidur, produktivitas
kerja, rutinitas keseharian dan kehidupan sosial. Perilaku kompulsif yang
mengganggu kehidupan normal dan menyebabkan stress berat pada keluarga, teman,
orang yang dicintai,dan lingkungan kerja. Kecanduan internet teah disebut
ketergantungan internet dan internet compulsivity. Pecandu internet membuat
internet menjadi prioritas dan lebih penting dari pada keluarga, teman, dan
pekerjaan. Internet menjadi prinsip pengorganisasian kehidupan pecandu.
Young membagi kecanduan internet ke dalam 5
kategori, yaitu :
1.
Cybersexual
Addiction, yaitu seseorang yang melakukan penelusuran dalam situs-situs porno
atau cybersex secara kompulsif.
2.
Cyber-Relationship
Addiction, yaitu seseorang yang hanyut dalam pertemanan melalui dunia cyber.
3.
Net Compulsion, yaitu seseorang yang
terobsesi pada situs-situs perdagangan (cyber shopping atau day trading) atau
perjudian (cybercasino).
4.
Information Overload, yaitu seseorang
yang terobsesi pada situs-situs informasi secara kompulsif.
5.
Computer Addiction, yaitu seseorang
yang terobsesi pada permainan-permainan online (online games) seperti misalnya
Doom, Myst, Counter Stike, Ragnarok dan lain sebagainya.
Skala perilaku Cybersex disusun sendiri oleh penulis dengan
mengacu pada empat aspek atau komponen dasar perilaku seksual online dari
cooper (Young, Knudson, dan Boeis, 2004), yaitu aktivitas, yakni serangkaian
tindakan individu berupa melihat gambar-gambar erotis, berpartisipasi dalam
chatting tentang sexs, saling tukar menukar gambar atau email tentang sexs yang
dilakukan menggunakan fasilitas internet. Refleksi, perilaku cybersex
merefleksikan kebutuhan atau keinginan personal yang tidak tercukupi atau tidak
terpuaskan, karena dalam kehidupan nyata pelaku tidak mampu meraih kesenangan
atau kepuasan yang setara. Kesenangan, pelaku cybersexbertujuan mendapatkan
kesenangan dari akses maupun dalam aktivitas berhubungan melalui chat room yang
bermuatan seksual atau pornografi. Rangsangan, perilaku cybersex ditandai pula
dengan adanya rangsangan seksual dalam berhubungan melalui chat room atau
rangsangan seksual yang bersumber dari gambar, suara, teks, maupun video.
Akibat buruk kecanduan ini dapat dilihat lebih jelas jika kebiasaan
ini dikaitkan dengan masalah dalam kehidupan sehari-hari seperti masalah akademis,
masalah kesehatan, masalah keuangan dan masalah relasi.
Daftar Pustaka:
Agustina, Ike & Fauzan Hafiza. (2013). Religiositas dan Perilaku Cybersex Pada
Kalangan Mahasiswa. 15-23.
Dewirarti, Tiarania & Karini Suci M. (2010). Hubungan Antara Kecanduan Internet dan
Depersi Pada Mahasiswa Pengguna Warnet di Kelurhan Jebres Surakarta. 75-84
Pilpala, Triharim k.s. (2013). Pengembangan Konselig Kelompok Untuk
Peningkatan Pengelolaan Diri Pada Remaja Yang Kecanduan Game Online. 88-89.
Wisiantari, Sri Komang & Herdianto, Kartika
Yohanes. (2013). Perbedaan Intensitas
Komunikasi Melalui Jejaring Sosial antara Tipe Kepribadian Ekstrovert dan
Introvert pada Remaja. 1-115.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar