Minggu, 27 Maret 2016

Psikoterapi_Person Centered Therapy


Person Centered Therapy (Rogers)

Terapi person centered therapy merupakan model terapi yang berpusat pada pribadi yang dipelopori dan dikembangkan oleh psikolog humanistik Carl Rogers.
Carl Rogers adalah psikolo Amerika yang teorinya tentang psikoterapi berkembang perlahan melalui pengalaman klinis intensif selama bertahun-tahun, berfokus pada keunikan setiap individu, pentingnya mengizinkan setiap individu untuk mencapai pemenuhan maksimum bagi potensinya, serta pemenuhan kebutuhan individu untuk secara jujur menghadapi realitas pengalaman-pengalamannya di dunia. Ketika mengaplikasikan teori ini dalam konteks terapi, Rogers (1951) menggunakan istilah client-centered untuk merefleksikan kepercayaannya bahwa setiap orang pada dasarnya baik dan bahwa potensi pengembangan diri terletak di dalam diri individu tersebut dan bukan pada terapis ataupun metode terapi.
            Inti dari teori Rogers ini adalah ide bahwa fambaran siri dari seseorang yang dapat menyesuaikan diri dengan baik harus sesuai atau kongruen dengan pengalaman orang tersebut. Ketika hal ini terjadi, maka seseorang disebut berfungsi sepenuhnya dengan suatu pandangan terhadap diri dan pengalaman yang akurat. Istilah sepenuhnya (fully) mengindikasikan bahwa individu tersebut menggunakan sumber-sumber psikologis yang mereka miliki secara maksimal. Sebaliknya, suatu gangguan psikologis merupakan hasil dari terhambatnya potensi seseorang untuk menjalani kapasitas hidup secara utuh yang kemudian menghasilkan kondisi inkongruen (ketidak sesuaian antara persepsi diri seseorang dengan realitas yang ada).
Tujuan Person-Centered Therapy
            Pada terapi ini Rogers tidak mengkhususkan tujuan untuk satu pemecahan masalah. Tapi untuk membantu klien dalam proses pertumbuhan dan perkembangan mereka, sehingga klien dapat lebih baik dalam memahami, menerima serta mengatasi masalah mereka saat ini dan masa depan. Tidak ditetapkan tujuan khusus dalam terapi ini sebab terapis digambarkan memiliki kepercayaan penuh pada klien untuk menentukan tujuan-tujuan yang ingin dicapainya dari dirinya sendiri. Bagi Rogers pada dasarnya tujuan terapi ini adalah untuk menciptakan iklim yang kondusif sebagai usaha untuk membantu klien menjadi pribadi yang utuh (fully functioning person), yaitu pribadi yang mampu memahami kekurangan dan kelebihan dirinya.
Tujuan dasar terapi ini kemudian diklasifikasikan ke dalam 4 konsepini tujuan terapi yaitu :
1.      Keterbukaan pada penglaman
2.      Kepercayan pada organisme sendiri
3.      Tempat evaluasi internal
4.      Kesediaan untuk menjadi satu proses
Ciri-ciri Person-Centered Therapy
Ø  Terapi berpusat pada person difokuskan pada tanggung jawab dan kesanggupan klien untuk menemukan cara-cara menghadapi kenyataan lebih sempurna.
Ø  Menekankan medan fenomenal klien. Medan fenomenal (fenomenal field) merupakan kseluruhan pengalaman seseorang yang diterimanya, baik yang disadari maupun yang tidak disadari. Klien tidak lagi menolak atau mendistorsi pengalaman-pengalaman sebagaimana adanya.
Ø  Prinsip-prinsip psikoterapi berdasarkan bahwa hasrat kematangan psikologis manusia itu berakar pada manusia sendiri. Maka psikoterpi itu bersifat konstrukstif di mana dampak psikoterapeutik terjadi karena hubungan terapis dan klien.
Ø  Terapi ini tidak dilakukan dengan suatu sekumpulan teknik yang khusus. Tetapi pendekatan ini berfokus pada person sehingga terapis dank lien memperlihatkan kemanusiawiannya dan partisipasi dalam pengalaman pertumbuhan.
Teknik-Teknik Person-Centered Therapy
            Terapi ini tidak memiliki merode atau teknik yang spesifik, sikap-sikap terapis dan kepercayaan antara terapis dan klien lah yang berperan penting dalam proses terapi. Terapis membangun hubungan yang membantu, di mana klien akan mengalami kebebasan untuk mengeksplorasi area-area kehidupannya yang sekarang diingkari atau didistorsinya. Terapis memandang klien sebagai narrator aktif yang membangun terapi secara interaktif dan sinergis untuk perubahan yang posirif. Dalam terapi ini pada umumnya menggunakan teknik dasar mencakup mendengarkan aktif, merefleksikan perasaan-perasaan atau pengalaman, menjelaskan, dan “hadir” bagi klien, namun tidak memasukan pengetesan diagnostic, penafsiran, kasus sejarah dan bertanya atau menggali informasi. Untuk terapis person centered kualitas hubungan terapi jauh lebih penting darupada teknis.
Tahap-Tahap Person-Centered Therapy
Jika dilihat dari apa yang dilakukan terapis dapat dibuat dua tahap yaitu :
1.      Tahap membangun hubungan terapeutik, menciptakan kondisi fasilitatif dan hubungan yang substantifseperti empati, kejujuran, ketulusan, penghargaan dan positif tanpa syarat.
2.      Tahap kelanjutannya yang disesuaikan dengan efektivitas hubungan konseling dan disesuaikan dengan kebutuhan klien.
Jika dilihat dsari segi pengalaman klien dalam proses hubungan terapi dapat dijabarkan bahwa proses terapi dapat dibagi menjadi empat tahap yaitu :
1.      Klien datang ke terapis dalam kondisi tidak kongruensi, mengalami kecemasan, atau kondisi penyesuaian diri yang tidak baik.
2.      Saat klien menjumpai terapis dengan penuh harapan dapat memperoleh bantuan, jawaban atas permasalahan yang sedang dialami, dan menemukan jalan atas kesulitan-kesulitannya. Perasaan yang ada pada klien adalah ketidakmampuan mengatasi kesulitan hidupnya.
3.      Pada awal terapi klien menunjukan perilaku, sikap dan perasaannya yang kaku. Dia menyatakan permasalahan yang dialami kepada terapis secara permukaan dan belum menyatakan pribadi yang dalam. Pada awal-awal ini klien cenderung mengeksternalisasi perasaan dan masalahnya dan mungkin bersikap defensif.
4.      Klien mulai menghilangkan sikap dan perilaku, membuka diri terhadap pengalamannya dan belajar untuk bersikap lebih matang dan lebih teraktualisasi, dengan jalan menghilangkan pengalaman yang didistorsinya.
Daftar pustaka :

Abidin, Zanial, (2002). Analisis Eksistensial Untuk Psikologi dan Psikiatri. Bandung: PT Refika Aditama.

Corey, Gerald. (2009). Teori dan Praktet dari Konseling dan Psikoterapi. Bandung: PT Refika Aditama.

Davison, Gerald, C., dkk. (2012). Psikologi Abnormal. Edisi ke-9. Jakarta: Rajawali.

Gunarsa, Singgih D. (1996). Konseling dan Psikoterapi. Jakarta: PT BPK Gunung Mulia.

Halgin, Richard, P., & Whitbourne, Susan, K. (2010). Psikologi Abnormal: Perspektif Klinis pada Gangguan Psikologis. Edisi 6-Buku 1. Jakarta: Salemba Humanika.

Palmer, Stephen. (2010). Pengantar Konseling dan Psikoterapi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar