Terapi Psikoanalisis
Psikoanalisa dikenalkan
oleh Sigmund Freud, seorang dokter yang tertarik dengan masalah-masalah
penyakit mental/abnormalitas perilaku. Berdasarkan pengalamannya melakukan
terapi pada banyak pasien, akhirnya Freud memiliki pemahaman tertentu mengenai
fenomena gangguan mental dan memunculkan konsep ketidaksadaran. Konsep
ketidaksadaran inilan yang akhirnya merubah pemahaman manusia mengenai diri
mereka sendiri, bahkan konsep ini pada akhirnya merubah cara pandang manusia
mengenai dunia mereka juga.
Bagi Freud, bagian yang
paling primitif dari pikiran adalah das
Es atau “sesuatu”/”itu” (it), yang hamper selalu diterjemahkan sebagai id. Dan
bagian yang kedua adalah das ich,
atau “saya” (I), yang diterjemahkan sebagai ego; dan yang terakhir adalah das Uber-Ich atau “saya yang lebih”
(over-I), yang dalam bahasa inggris disebut sebagai superego. Tingkat atau
wilayah ini, sudah tentu, tak nyata karena merupakan konstruk hipotetis. Ketiga
tingkat tersebut saling berinteraksi sehingga ego bisa masuk menembus berbagai
tingkat topografis dan memiliki komponen alam sadar, alam bawah sadar, dana lam
tidak sadar. Sementara superego sendiri berada pada alam bawah sadar dana lam
tidak sadar, sedangkan id sepenuhnya berada di alam bawah sadar.
Sejak masa Freud isi
pemikiran psikoanalisis telah mengalami perubahan penting, namun seluruh
penanganan yang menggunakan pendekatan psikoanalisis memiliki prinsip dasar
yang sama. Terapi psikoanalisis merupakan terapi pencerahan. Namun ini berupaya
menghapus represi yang dialami dan membantu pasien menghadapi konflik masa
kecil, mendapatkan pencerahan atasnya, dan menyelesaikannya dengan pemikiran
dan realitas orang dewasa. Represi, yang terjadi jauh sebelumnya, menghambat
ego untuk tumbuh dewasa, penghapusan represi dimaksudkan untuk memungkinkan
terjadinya pembelajaran ulang.
Terlepas dari
komplesitasnya, setiap psikoterapi adalah suatu interaksi sosial dimana seorang
profesional terlatih mencoba membantu orang lain, yaitu klien atau pasien,
untuk berperilaku dan berperasaan secara berbeda. Terapis mengikuti prosedur
yang sedikit banyak sesuai dengan teori atau pemikiran tertentu. Asumsi
dasarnya adalah bahwa interaksi verbal dan nonverbal tertentu yang terjadi
dalam hubungan saling percaya dapat mencapai berbagai tujuan seperti mengurangi
kecemasan dan menghilangkan perilaku yang merusak diri sendiri atau berbahaya.
Treatmen
Tujuan utama dari
treatmen psikoanalisis sebagaimana yang dikembangkan oleh Freud (Freud,
1913-1914, 1963) adalah untuk membawa hal-hal yang ditekan dan tidak disadari
ke alam sadar.
Teknik-teknik
Utama dalam Psikoanalisis
Dalam melakukan terapi
psikoanalisis ini ada teknik-teknik utama yang dapat digunakan, yaitu sebagai
berikut :
a. Asosiasi
bebas (free association) : Pasien mencoba mengatakan apa pun yang muncul dalam
pikirannya tanpa menyensornya.
b. Analisis
mimpi (dream analysis) : Berdasarkan asumsi bahwa pertahanan diri melemah dalam
keadaan tidur, makna simbolik isi mimpi memberikan petunjuk mengenai konflik
yang ditekan.
c. Interpretasi
(interpretation) : Analisis menunjukan kepada pasien makna sebenarnya beberapa
perilakunya.
d. Analisis
transferensi (analysis of transference) : Dengan tetap menjadi figur yang tidak
jelas, analisis mendorong pasien memberikan respons kepadanya seperti cara
pasien merespons orang-orang yang penting dalam hidupnya, terutama orang
tuanya.
Cuplikan
dari suatu Sesi Psikoanalisis-Sebuah ilustrasi Transferensi
Pasien : (Seorang pria ekslusif bisnis
berusia 50 tahun) : Saya benar-
benarmerasa tidak
ingin bicara hari ini.
Analisis : (Tetap diam selama beberapa menit,
kemudian) Mungkin Anda ingin
menyampaikan
Mengapa Anda merasa tidak ingin bicara.
Pasien : Anda mulai lagi, menuntut saya,
memaksa sayan melakukan sesuatu
yang
tidak ingin saya lakukan. (Diam sesaat) Apakah saya harus selalu berbicara di sini, pada saat saya tidak ingin?
(Nada suaranya naik dan marah) Bisakah Anda pergi dari belakang saya? Anda
tidak peduli dengan perasaan saya, bukan?
Analisis : Mengapa Anda merasa saya tidak
peduli?
Pasien : Karena Anda selalu memaksa saya
untuk melakukan sesuatu yang saya
rasa tidak
bisa.
Cuplikan di atas harus dipahami dalam
konteksnya. Pasien tersebut telah menjalani terapi selama sekitar satu tahun,
dengan keluhan depresi dan kecemasan. Walaupun sangat sukses di mata keluarga
dan rekan-rekannya, dia merasa lemah dan tidak kompeten. Melalui banyak sesi asosiasi
bebas dan analisis mimpi, analisis mulai menduga bahwa perasaan gagal yang
dirasakan pasien berakar dari pengalaman-pengalaman di masa kecilnya bersama
ayah yang sangat keras dan suka mengkritik, yang jauh lebih sukses dari si
klien, yang tampaknya tidak pernah puas dengan apa pun yang diupayakan anaknya.
Pembicaraan yang dikutip di sini pada akhirnya diinterpretasikan oleh analis
sebagai ekspresi kemarahan pasien terhadap tekanan sang ayah terhadapnya. Nada suara
pasien (marah), seperti halnya reaksinya yang berlebihan terhadap saran lembut
dari analis untuk menceritakan mengapa dia tidak ingin berbicara,
mengindikasikan bahwa pasien sebenarnya buka marah kepada analis, tetapi kepada
ayahnya. Terapis menilai ekspresi perasaan semacam itu-yaitu, pasien
mengalihkan perasaan terhadap ayahnya kepada analis-sebagai hal penting. Dan menggunakannya
dalam sesi-sesi selanjutnya untuk membantu pasien mengevaluasi ulang
ketakutan-ketakutan di masa kecilnya untuk mengecewakan ayahnya dan
mengekspresikan kemarahan kepadanya.
Modifikasi
dalam Terapi Psikoanalisis
Seperti
yang terjadi dalam semua paradigma, perubahan ide orisinal mengenai cara
terbaik melakukan terapi juga terjadi sepanjang waktu. Satu inovasi dalam
terapi psikoanalisis adalah melakukannya secara kelompok, bukan hanya bagi satu
orang. Beberapa kelompok alanitis berfokus pada psikodinamika individu dalm
kelompok, menggunakan topik umum seperti asosiasi bebas, interpretasi, analisis
mimpi (Wolf & Kutash, 1990). Para terapis lainnya berpendapat bahwa
kelompok itu sendiri memiliki serangkaian psikodinamika kolektif, terwujud
dalam sesuatu seperti transferensi kelompok kepada terapis. Dalam lingkup
psikoanalisis terdapat beberapa kontroversi mengenai apakah pendekatan kelompok
dapat berhasil. Isu kuncinya adalah apakah format kelompok akan melemahkan
transferensi kepada terapis dan dengan demikian membuat terpi tidak efektif.
Daftar
Pustaka :
Davison,
Gerald, C., dkk. (2012). Psikologi Abnormal. Edisi ke-9. Jakarta: Rajawali.
Halgin,
Richard, P., & Whitbourne, Susan, K. (2010). Psikologi Abnormal: Perspektif
Klinis pada Gangguan Psikologis. Edisi 6-Buku 1. Jakarta: Salemba Humanika.
Feist,
Jess., & Feist, Gregory, J.(2010). Psikologi kepribadian. Edisi 7. Jakarta:
Salemba Humanika.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar